Jumat, 07 November 2014
Pagi yang cerah membuat aku bersemangat berangkat ke sekolah. Namaku Alisa Rosemelly, panggil aja sasa. Sekarang aku kelas 7 smp, aku sekolah di SMP MELATI. Aku banyak dikenal semua orang termasuk kepala sekolah, karena aku murid yang pandai dan pernah mendapat prestasi juara 1 di bidang akademik maupun non akademik.
Fakhri seorang sahabat terbaiku. Dia adalah sosok sahabat yang baik, perhatian, dan selalu mengerti keadaanku.
“sasa..” panggil seseorang itu dari arah belakang. Dan itu sahabatku fakhri dan tyhana.
“hai fakhri hai tyhana, yuk kita ke kelas” aku bersahut.
Lalu aku menuju ke kelas dengan dua sahabtku. Aku mengikuti pelajaran. Aku duduk sebangku dengan Tyhana, sedangkan Fakhri duduk dengan Arfa sahabatnya.
Setelah bel sekolah berbunyi, fakhri menghampiriku di gerbang atau tempat menunggu murid-murid dijemput. Tidak lama kemudian aku di jemput dengan abiku. Lalu aju membuka pintu mobik, Fakhri tersenyum kepadaku, lalu aku membalas senyumnya.
Setelah pulang sekolah aku berganti baju. Lalu aku menikmati coklat panas buatan bundaku. “Aku berterimakasih banget kepada Tuhan sudah menciptakan seorang bunda yang secantik dan sebaik ini” kataku pelan pelan sambil melamun. Tiba tiba bunda menjawab lamunanku itu “Itu semua berkat Tuhan kak”. Sore ini tiba-tiba Fakhri menelponku, dia mengajaku pergi ke puncak, di telpon dia menagatakan ada sesuatu yang akan diomongin. Tidak lama kemudian ia mengetuk pintu rumahku dan aku bergegas membuka pintu. Setelah minta izin pamit ke abi dan bunda aku. diijinkan pergi bersama Fakhri.
Ditemani dengan cuaca yang sejuk di sini, aku dan fakhri pun berjalan menuju puncak menaiki motor milik fakhri. Aku menatapnya dengan hati yang bergemetaran, sepertinya aku. mempunyai rasa sayang ke fakhri, tapi aku tidak tau bagaimana cara mengungkapkanya. Baru kali ini fakhri mengajaku ke puncak dan aku tidak tau di akan melakukan sesuatu apa. Bikin penasaran ya
“Sasa, pemandanganya bagus nggak?” tanya fakhri.
“Iya bagus kok” aku menjawab pertanyaanya.
“Aku mengajak kamu kesini buat hatimu suka, pastinya kalau kamu senang aku kan ikut suka juga, ya nggak hehehe” fakhri tiba tiba mengeluarkan kalimat candanya.
“Makasih ya fakhri, kamu bisanya ikutin aku doang huuu, eh iya katanya kamu mau bilang sesuatu apaan ya? aku sudah mulai penasaran nih hehehe” aku menjawab omongan fakhri.
Tiba tiba fakhri diam dan melamun. “Aku ingin kita lebih dari sahabat sa” kata fakhri. Aku dag dig dug banget setelah fakhri mengucapkan kalimat itu.
“Maksud kamu pacaran?” aku menjawabnya.
“Iya, itu kalau kamu mau, aku sayang sama kamu sa, dan aku minta maaf sama kamu aku baru ngomong sekarang. Kalau kamu nolak gak apa apa kok” fakhri menajawab dan memegang tanganku. “Iya aku mau kok, aku juga sayang sama kamu, tapi aku minta maaf juga, aku baru ngomong sekarang” sahut aku sambil gugup. “Iya, thanks ya sasa nya fakhri” fakhri menjawab. Lalu aku dan fakhri pulang, aku di antar pulang fakhri.
Setelah sampai di rumah dia mengasih boneka bear yang besar. Kemuduan dia berpamit ke aku. Lalu aku masuk ke kamar dan memeluk boneka bear. Terimakasih Tuhan telah mempertemukan aku denganya, aku berharap aku dan dia akan selamanya bersama.
Cerpen Karangan: Firda Alisya
“Yas! Kantin yuk?” Tanya Reno yang tahu-tahu udah duduk di samping Iyas. Iyas diam nggak mood buat nanggapin.
“Yas, lo kenapa sih?” Reno merasa keheranan. “Lo sakit ya?”
Iyas menggelengkan kepala. “Nggak, gue baik-baik aja.” Tangan Iyas meremas-remas buku diary yang ada di hadapannya.
Tangan Reno menggapai buku diary itu dari tangan Iyas. Sontak Iyas ingin merebut kembali buku diarynya dari Reno. Reno malah ketawa geli membaca apa yang Iyas tulis di halaman pertama. “Dear diary.. Hari ini gue kesal banget, gue gagal candle light dinner sama Tom gara-gara gue numpahin air lemon ke bajunya, Huhh!!”
“Terus gimana tuh si Tom? Lo ajak dinner lagi nggak?” tanya Reno sok peduli, padahal ini cuma tak tik Reno supaya bisa meledek Iyas.
“Mana berani gue? Sekarang aja kalo lihat gue, dia buru-buru kabur.” Iyas penuh dengan kekesalan, dia meratapi nasibnya yang selalu sial.
Tawa Reno meledak, rupanya Reno sudah tidak bisa menahan tawanya lebih lama lagi. “Iyas, sial banget sih nasib lo, kapan sih lo mau ngelakuin hal yang benar? Cuma dinner aja lo bikin satu cowok kapok jalan sama lo.” Ledek Reno.
Tentu aja perkataan tersebut bikin Iyas uring-uringan. Iyas pikir Reno bakalan ngasih nasehat yang bermanfaat buat dia. Ternyata Reno malah meledek dia abis-abisan. “Masih mending gue, dari pada lo yang nggak pernah ngedate sama cewek manapun.” Balas Iyas.
“Eh.. Jangan salah, gue punya cewek tau!” Reno gak kalah panas dari Iyas yang diledek abis-abisan.
“Mana? Kok gue baru denger kalo lo punya cewek?” Iyas makin niat mancing Reno supaya nunjukin cewek mana yang lagi menjalin hubungan sama Reno.
“Lo lihat aja ya? Gue bakal nunjukin secepatnya.” Kata Reno dengan penuh keyakinan. Iyas makin yakin kalo Reno emang lagi gak bohong, Iyas makin penasaran kaya apa sih ceweknya Reno.
“Terus lo jadi nggak ngajak gue ke kantin?” tanya Iyas kemudian.
“Ah, udah mau bel. Kelas yuk!”
Mereka pun memasuki kelas masing-masing.
Pelajaran terakhir yang membosankan. Pelajaran Biologi, pelajaran ini seolah menjadi obat tidur bagi sekian banyak siswa, entah membosankan atau karena suara guru yang begitu merdu hingga mampu membuat para siswa terdiam, entah tidur atau mencoba menahan kantuk.
Tett!! Jam pun berakhir, siswa pun berhamburan keluar beradu cepat ingin segera sampai di rumah. Aula sekolah menjadi lautan manusia yang penuh sesak.
Di samping gerbang Iyas berdiri menanti seseorang. Reno? Yap! Tepat sekali, mereka berdua selalu pulang bersama. Tak berapa lama Reno muncul. Seperti biasa bawelnya Iyas membuat suasana kocak, sesekali Iyas ngocol dan bikin Reno tertawa terbahak-bahak.
Keesokan harinya Iyas membuat janji dengan Reno di sebuah cafe, dengan tujuan Reno mau mengenalkan ceweknya ke Iyas.
Iyas duduk di sebuah meja yang berdekatan dengan pintu masuk. Entah apa yang membuat hatinya gundah, dari tadi hatinya terus berdebar-debar tak tentu. Sudah satu jam lamanya, tetapi Reno nggak kunjung muncul. Sudah Iyas kira kalau Reno nggak bakalan datang, Reno emang nggak serius bilang kalo dia punya pacar. Iyas beranjak dari tempat duduknya, namun tangan Reno berhasil mencegahnya. Di samping Reno sudah berdiri wanita cantik dengan gaun casual merah muda dan make up yang elegan, ini membuat wanita yang berdiri di dekat Reno terkesan anggun. Iyas tidak dapat berkata apapun, dia membisu. Suasana menjadi sunyi, entah apa yang menghinggapi hati Iyas, kebawelannya tiba-tiba hilang. Lidahnya kaku, hatinya kosong, ia merasa sesuatu bergentayangan di pikirannya.
“Heh! Kenapa sih lo? Kok diam gitu?” Reno menyadarkan Iyas dari lamunan.
“Oh.. maaf, gue agak speechless. Gue kira lo bohong soal pacar lo itu.” Iyas mencoba mencari kata. Dia gak mau kelihatan bodoh di hadapan Reno dan pacarnya. “Eh.. duduk yuk?” Reno dan pacarnya duduk berdampingan, sementara Iyas duduk di depan mereka dengan bangku kosong di sampingnya. Huh!! Ngenes!!
“Oya, kenalin aku Nadira, sekolah gue di SMA 44. Aku leader cheer disana.” Dari omongannya kelihatan banget kalo Nadira ini ikon penting di sekolahnya.
“Oh.. gue Iyas, gue satu sekolahan sama Reno.” Iyas bicara ala kadarnya.
“Lo ikut eskul apa?” tanya Nadira.
“Multimedia, semacam oprasional komputer. Gue sama Reno satu eskul.”
Iyas jujur agak minder, Nadira itu kelihatan sempurna, cantik, anggun. Sedangkan dirinya, jauh banget kalo dibandingin Nadira. “Apa? Kamu ikut eskul multimadia? Apa nggak ada yang lebih bagus? Kaya cheer, ballet, dance. Masa multimedia? Yang bener aja.” Nadira kelihatan mulai ngeremehin Iyas. Iyas mencoba tenang, dia nggak mau bikin kacau suasana.
“Multimedia juga bagus kok, kebetulan gue nggak suka dance, dance itu ngeluarin tenaga dan keringat, jadi gue pilih eskul multimedia yang simpel dan nggak ngeluarin keringat, hehe..”
“Eh.. pesan makanan yuk!” Reno mencoba menetralkan suasana. Nadira mengangguk antusias.
Iyas hanya termenung, apa yang sebenarnya terus mengganggu pikiran Iyas? Iyas hanya terdiam seribu bahasa, sesekali dia tersenyum melihat kedua sejoli itu. Tapi, jauh dilubuk hatinya dia merasakan kesunyian yang membuatnya semakin tertekan.
Semakin lama Iyas nggak sanggup menahan kecanggungan ini lebih lama. Iyas ingin memberi ruang buat mereka berdua. “Ren, gue cabut ya? Tiba-tiba gue dapet telepon dari nyokap, ada yang penting deh kayanya.” Iyas pamit. Sebenarnya nyokapnya nggak telepon.
“Yah, lagian lo belum pesan makanan udah mau cabut aja.” Reno mencegah Iyas yang udah hampir beranjak dari tempat duduk. “Gue anter ya?” tawar Reno.
“Apaan sih? Cewek lo siapa? Kok mau main anter aja? Harusnya lo tanya dulu dong ke gue.” Nadira kurang suka dengan penawaran Reno pada Iyas.
“Loh, lo kok gitu? Dia kan sahabat gue, gue kan cuma mau nganter Iyas, emang salah ya?”
“Tapi, kan gue cewek lo. Lo harusnya hargain gue dong!” Nadira makin nggak terima.
Iyas jadi bingung sama situasi yang nggak menentu ini, “Ren, lo nggak perlu kok nganterin gue. Gue udah dijemput kok di luar. Have fun ya buat kalian berdua.” Iyas buru-buru keluar. Dan sebenarnya Iyas nggak dijemput oleh siapa pun.
Iyas berdiri menunggui taksi, hawa dingin merasuk sampai ke tulang-tulang, sudah hampir satu jam Iyas menunggu dan belum ada satu taksi pun yang muncul. Langit murung bersamaan dengan Iyas.
—
Iyas mematung di samping gerbang sekolah, wajahnya begitu kusut seperti diaduk-aduk seterika. Seperti biasa dia menunggu Reno disini. Tapi, hingga sekolahan sepi, Reno belum juga muncul. Iyas mulai jenuh mematung sendirian di depan gerbang. Hampir saja Iyas beranjak, Reno muncul sambil terengah-engah. “Sorry ya, Yas, Lama ya?”
Sejenak Iyas terdiam. “Ya udah pulang yuk? Udah sore nih.” Kata Iyas kemudian.
“Lo nggak apa-apa kan?”
“Nggak apa-apa gimana? Ya gue baik-baik ajalah. Ya udah pulang yuk.”
Reno belum juga beranjak. “Lo serius nggak apa-apa?”
“Ya iyalah gue nggak apa-apa. Lo kenapa sih?”
“Justru lo yang kenapa? Aneh aja, lo nggak ngomel-ngomel karena gue telat.”
Keesokan harinya Reno duduk sendirian di bangku taman sekolah sembari menimang-nimang kotak yang dia genggam, tiba-tiba Iyas muncul. “Yas, lihat deh gue punya sesuatu.” Reno menunjukan isi kotak yang dia pegang.
“Kalung?” Iyas shock, melihat isi kotak itu.
“Iya, lo suka nggak? Sini biar gue pasangin.” Reno memasangkan kalung itu di leher Iyas, kalung itu bergelantung manis di lehernya.
“Gue suka banget.” Puji Iyas, matanya berbinar penuh kebahagiaan. Badannya menjadi seringan kapas, dia ingin melayang saking bahagianya.
Reno tersenyum. “Bagus deh kalo lo suka, menurut lo Nadira…” Reno menerawang jauh. Sementara itu Iyas seperti ditabok saat bermimpi di siang bolong, tiba-tiba saja dia merasa langit runtuh menimpa tubuhnya.
“Gue yakin dia pasti suka!” timbal Iyas sembari menyerahkan kembali kalung itu ke Reno dan beringsut pergi. Reno hanya tertegun melihat sikap Iyas.
Hari-hari berlalu semu, setelah hari itu mereka nggak pernah pulang bersama lagi. Reno sibuk dengan kegiatannya, Iyas sibuk dengan apa yang dia jalani sekarang, Iyas pindah sekolah ke Bandung. Semakin hari Reno semakin kehilangan sosok Iyas. Iyas yang bawel, lucu, lemot tapi ngangenin. Reno semakin merasa kehilangan separuh hidupnya.
7 tahun kemudian, Iyas kembali menjalani rutinitasnya di Jakarta. Dia sudah menjadi seorang sutradara. Bulan ini dia menjalani proyek bersama agensi terkenal.
“Ini editor film yang akan berkerjasama dengan anda.” Kata Produser film di agensi tersebut.
“Saya harap dia bisa profesional menjalankan tugasnya.” Kata Iyas tanpa menoleh. Begitu dia menoleh, dia terdiam seribu bahasa. Reno! Sahabatnya masa SMA.
Suasana menjadi kaku, nggak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka.
“Hei, apa kabar? Kelihatannya kamu udah nggak bawel lagi ya, hehe..” Reno berusaha menghangatkan suasana.
Tubuh Iyas membeku, tangannya sedingin es. “Ngghh.. aku mencoba menjadi dewasa.” Jawab Iyas ala kadarnya.
Suasana kembali diam, sampai saat Reno beranjak meninggalkannya. Iyas menyalakan dirinya, betapa bodohnya dia, apa yang dia lakukan selama ini? Menunggu jodoh menghampiri?
Iyas berjalan menuju loker dengan lesu, dia terus saja menggerutu. “Kenapa harus dia lagi? Kenapa harus bertemu dia lagi? Disaat aku sudah mulai melupakan mengapa dia muncul? Kenapa dia hadir? Kenapa dia?” ratapnya dalam hati.
Ketika membuka lokernya, Iyas menemukan beberapa barang, beberapa fotonya saat SMA, Iyas tertegun melihat foto-foto tersebut, berbagai pose Iyas dengan pandangan mata tanpa menghadap kamera membuat Iyas sadar bahwa foto-foto itu diambil secara diam-diam. Di belakang salah satu foto tertulis, “Terkadang aku tidak puas jika hanya menatap wajahmu.” Beberapa kupon peminjaman CD film, di belakangnya tertulis, “Aku paling merindukan saat ini. Saat kita menyewa CD film.” Dan sebuah kotak yang berisi kalung, dan selembar kertas di dalam kotak itu.
Tuhan,
bila ini kisah cinta mengapa aku tidak dapat mengejarnya
Tuhan,
bila aku jodohnya mengapa aku tak bisa menangkapnya
Tuhan,
adakah sajak yang bisa ku ungkapkan untuknya
“Kalung itu untukmu Iyas, bukan Nadira.” Suara itu mengagetkan Iyas. “Bertahun-tahun sudah aku menunggu, akhirnya tiba, sebanyak sajak yang aku punya mungkin tidak bisa mengungkapkan seluruh perasaanku. Tapi, diriku selalu kau penuhi dengan jiwamu yang mungkin rapuh.” Kata Reno muncul dari balik pintu.
Iyas menoleh, matanya berkaca-kaca. Air mata tak kuasa dibendungnya, baginya kebahagiaan itu sekarang adalah miliknya, kini dia percaya pepatah itu. Jodoh datang tanpa dia harapkan, Tuhan telah menjawab doanya. Ternyata cintanya, Hatinya, Semua ada di Reno.
Cerpen Karangan: Elfrida Ayu
Saat ini, aku yang sukses telah perlahan melupakan Ibu. Aku merasa Ibu akan baik-baik saja tanpaku. Dan sepertinya firasatku tentang Ibu betul, dia baik-baik saja dan bahkan sangat-sangat baik tanpaku. Terbukti dengan jarangnya dia menghubungiku.
Malam ini, aku menelepon Managerku. Aku membatalkan semua jadwalku hari ini karena aku betul-betul ingin istirahat sejenak dari jadwal padatku yang memusingkan ini. “Lho, kenapa toh Bu?” Tanya Managerku heran. “Saya mau istirahat aja, kok. Nggak ada apa-apa” Jawabku ramah. “Ya sudah, Ibu. Kalau emang Ibu mau istirahat. Saya ndak bisa melarang” kata Managerku. “Terimakasih” Ucapku sebelum akhirnya memutuskan sambung telepon.
Aku mengendarai mobilku dengan cepat menyusuri jalanan Jakarta yang sedang tumben-tumbennya tidak macet. Tidak lama kemudian, aku sampai di rumah megahku yang ku tinggali sendiri bersama beberapa pembantuku. “Selamat datang, Bu. Pulangnya cepat sekali ya..” Mbok Minah yang sedang menyapu garasi menyambutku sambil tersenyum. “Iya, nih, Mbok. Lagi enggak ada jadwal” jawabku, membalas senyum Mbok Minah. “Ibu pasti kepengen istirahat, kan, Bu? Saya antar Ibu ke kamar ya” kata Mbok Minah lagi. “Tidak usah, Mbok. Selesaikan pekerjaan Mbok aja” aku menolak. “Ya udah, Ibu” Jawab Mbok Minah seraya melanjutkan acara sapu-menyapunya itu.
Aku berjalan masuk melalui pintu utama yang lebih dekat dengan tangga menuju kamarku. Tanpa sadar, pandanganku tertumbuk pada sebuah benda yang masih kelihatan baru karena selalu dibersihkan dan dicat ulang. Benda itu adalah kotak surat berwarna merah. Aku tiba-tiba tertarik untuk membukanya, sekedar iseng-iseng atau aku sedang penasaran dengan isinya. Saat aku membuka kotak surat merah tersebut, sebuah surat terjatuh ke tanah. Aku cepat-cepat menutup kotak surat yang sudah kosong dan memungut surat yang jatuh. “Ibu?!” Pekikku terkejut saat melihat nama pengirim surat. “Akan ku baca saat sampai di kamar” Aku memutuskan.
Aku berlari menuju kamarku di lantai dua. Aku menghempaskan badanku, lelah. Aku mandi, mengganti baju dan akan bersiap-siap untuk tidur jika aku tidak teringat dengan surat dari Ibuku. Aku merobek kertas posnya dan mengeluarkan isinya. Aku menemukan sebuah kertas usang yang penuh dengan tulisan tangan Ibu. Aku jadi merindukan Ibu. Dengan tergesa-gesa, aku membaca surat dari Ibuku.
“Hai anakku yang paling ku sayangi, Yesi Aliani Kristiani,
Ibu pikir mungkin terlalu terlambat untuk mengatakan ini tetapi Ibu akan menyesal selamanya jika tidak mengatakannya.
Saat kau masih kecil, saat Ayahmu sudah pergi meninggalkan kita, ingatkah kau saat aku selalu berdiri mengawasimu di ujung jalan untuk mengawasimu bermain? Aku tau betapa bencinya kau padaku saat itu. Kau benci karena aku selalu memperhatikanmu sedangkan teman sebayamu dapat bermain dengan bebas.
Kau selalu bersembunyi di balik pohon besar. Aku tau kau berharap aku pergi dari hadapanmu. Tapi aku malah mencarimu dengan raut wajah cemas, bukan?
Aku selalu mengawasimu kemanapun dan apapun yang kau lakukan. Saat kau terjatuh, aku berlari menghampirimu, memapahmu, menuntunmu ke rumah kita. Aku bertanya “Apa kau baik-baik saja?” Sedangkan kau menatapku dengan raut penuh kebencian.
Aku selalu menyisipkan sepotong roti ke dalam tasmu saat kau duduk di bangku sekolah dasar. Aku tau betapa tidak sukanya kau dengan roti yang aku sisipkan. Kau ingin bebas jajan di sekolahmu. Tapi yang harus kau tau, jajanan di sekolahmu benar-benar tidak sehat. Aku sangat kecewa ketika melihat roti-roti yang ku buatkan untukmu sudah busuk dan berjamur. Apakah kurang enak? Aku minta maaf.
Pada pesta kelulusanku sebagai Siswi SMP, aku membuatkanmu sebuah gaun hingga tidak tidur sampai jam 4 pagi. Aku tidak ingin kau tampil buruk di pesta kelulusanmu, meskipun aku harus memakai baju tua yang compang-camping sekalipun. Aku sangat bangga, aku mengumumkan bahwa gaun yang kau kenakan itu adalah hasil karyaku. Tapi kau malah menghardikku, “Ibu tolol sekali! Selera Ibu sangat kuno, bahkan kain gaun ini sangat murahan!” Betapa terlukanya hatiku saat itu.
Aku tau aku tidak punya cukup uang untuk membelikanku pakaian-pakaian mewah seperti anak-anak lain, tapi aku selalu berusaha untuk membuatmu tidak merasa kalah dari anak-anak lain. Aku jauh lebih terluka melihatmu menangis saat aku tidak mempu membelikanmu barang-barang seperti teman-temanmu yang lain.
Sekarang, kau telah menjadi Bintang. Aku tau kau sibuk saat ini karena itu lah kau tidak bisa menghubungiku. Tapi, aku mohon, tolonglah sempatkan dirimu untuk menghubungiku saat waktu luangmu. Kau tau betapa aku merindukanmu, Yesi? Mungkin ini permintaan terakhir Ibu, Nak. Tapi jangan datang ke rumah kita. Saat ini Ibu sudah sakit-sakitan. Kamu pasti jijik melihat keadaan Ibu sekarang. Cukup hubungi Ibu saja, itu lebih dari cukup.
Ibu sayang padamu.”
Aku beruraian air mata membaca surat dari Ibu. Memoriku terputar ke kejadian-kejadian pada surat Ibu tersebut. Aku langsung menyambar kunci mobilku dan melesat pada alamat rumah yang sangat ku kenal, alamat rumahku dan Ibu. “Yesi! Sudah Ibu bilang, jangan datang ke sini!” Ibu membentakku. Aku sudah berlinang air mata melihat kondisi Ibu. Aku berlari memeluk Ibuku. “Ibu, jangan tinggalkan Yesi, Bu!” Aku menangis meraung-raung. Aku tidak bisa menahan sedihku. “Yesi.. Karena Ibu sudah menemuimu, jadi Ibu bisa pergi dengan tenang. Ibu sayang padamu, Yesi” kata Ibuku dengan suara bergetar. Ibu membacakan doa pertobatan. “IBUUU!!” Teriakku diiringi dengan hujan yang turun dengan deras.
Aku menangis sejadi-jadinya saat jenazah Ibu dimakamkan. Banyak orang yang datang saat pemakaman Ibu. Saudara-saudara dari pihak Ibu menyabarkanku. Setelah semua orang pulang, aku menatap pusara Ibu dengan air mata berlinang. “Ibu.. Aku mencintaimu” ucapku terbata-bata. Aku terisak-isak, menyesali perbuatanku. Aku yang seharusnya menemani Ibu di usia tuanya malah sibuk dengan duniaku sendiri. Tiba-tiba hujan turun dengan sangat deras, seperti kemarin saat Ibu menghembuskan napas terakhirnya. Aku berlari ke arah mobilku terparkir. Satu kalimat untuk Ibuku, “Ibu, aku bangga mempunyai Ibu sepertimu”
Pesan moral: Sayangi, hargai, dan hormati Ibu kita selama kita masih bisa melakukannya. Karena pengorbanan Ibu tidak bisa terbayarkan oleh apapun. My mom, my hero! I love you, Mom!
-TAMAT-
Langganan:
Postingan (Atom)