Ada pepatah yang bilang, jodoh bakal datang pada waktunya.
Tapi, Iyas ngerasa jodoh selalu menjauhinya. Gimana nggak? 17 tahun
berlalu dan Iyas belum punya pengalaman berpacaran. Hah…!!!
“Yas! Kantin yuk?” Tanya Reno yang tahu-tahu udah duduk di samping Iyas. Iyas diam nggak mood buat nanggapin.
“Yas, lo kenapa sih?” Reno merasa keheranan. “Lo sakit ya?”
Iyas menggelengkan kepala. “Nggak, gue baik-baik aja.” Tangan Iyas meremas-remas buku diary yang ada di hadapannya.
Tangan Reno menggapai buku diary itu dari tangan Iyas. Sontak Iyas ingin
merebut kembali buku diarynya dari Reno. Reno malah ketawa geli membaca
apa yang Iyas tulis di halaman pertama. “Dear diary.. Hari ini gue
kesal banget, gue gagal candle light dinner sama Tom gara-gara gue
numpahin air lemon ke bajunya, Huhh!!”
“Terus gimana tuh si Tom? Lo ajak dinner lagi nggak?” tanya Reno sok
peduli, padahal ini cuma tak tik Reno supaya bisa meledek Iyas.
“Mana berani gue? Sekarang aja kalo lihat gue, dia buru-buru kabur.”
Iyas penuh dengan kekesalan, dia meratapi nasibnya yang selalu sial.
Tawa Reno meledak, rupanya Reno sudah tidak bisa menahan tawanya lebih
lama lagi. “Iyas, sial banget sih nasib lo, kapan sih lo mau ngelakuin
hal yang benar? Cuma dinner aja lo bikin satu cowok kapok jalan sama
lo.” Ledek Reno.
Tentu aja perkataan tersebut bikin Iyas uring-uringan. Iyas pikir Reno
bakalan ngasih nasehat yang bermanfaat buat dia. Ternyata Reno malah
meledek dia abis-abisan. “Masih mending gue, dari pada lo yang nggak
pernah ngedate sama cewek manapun.” Balas Iyas.
“Eh.. Jangan salah, gue punya cewek tau!” Reno gak kalah panas dari Iyas yang diledek abis-abisan.
“Mana? Kok gue baru denger kalo lo punya cewek?” Iyas makin niat mancing
Reno supaya nunjukin cewek mana yang lagi menjalin hubungan sama Reno.
“Lo lihat aja ya? Gue bakal nunjukin secepatnya.” Kata Reno dengan penuh
keyakinan. Iyas makin yakin kalo Reno emang lagi gak bohong, Iyas makin
penasaran kaya apa sih ceweknya Reno.
“Terus lo jadi nggak ngajak gue ke kantin?” tanya Iyas kemudian.
“Ah, udah mau bel. Kelas yuk!”
Mereka pun memasuki kelas masing-masing.
Pelajaran terakhir yang membosankan. Pelajaran Biologi, pelajaran ini
seolah menjadi obat tidur bagi sekian banyak siswa, entah membosankan
atau karena suara guru yang begitu merdu hingga mampu membuat para siswa
terdiam, entah tidur atau mencoba menahan kantuk.
Tett!! Jam pun berakhir, siswa pun berhamburan keluar beradu cepat ingin
segera sampai di rumah. Aula sekolah menjadi lautan manusia yang penuh
sesak.
Di samping gerbang Iyas berdiri menanti seseorang. Reno? Yap! Tepat
sekali, mereka berdua selalu pulang bersama. Tak berapa lama Reno
muncul. Seperti biasa bawelnya Iyas membuat suasana kocak, sesekali Iyas
ngocol dan bikin Reno tertawa terbahak-bahak.
Keesokan harinya Iyas membuat janji dengan Reno di sebuah cafe, dengan tujuan Reno mau mengenalkan ceweknya ke Iyas.
Iyas duduk di sebuah meja yang berdekatan dengan pintu masuk. Entah apa
yang membuat hatinya gundah, dari tadi hatinya terus berdebar-debar tak
tentu. Sudah satu jam lamanya, tetapi Reno nggak kunjung muncul. Sudah
Iyas kira kalau Reno nggak bakalan datang, Reno emang nggak serius
bilang kalo dia punya pacar. Iyas beranjak dari tempat duduknya, namun
tangan Reno berhasil mencegahnya. Di samping Reno sudah berdiri wanita
cantik dengan gaun casual merah muda dan make up yang elegan, ini
membuat wanita yang berdiri di dekat Reno terkesan anggun. Iyas tidak
dapat berkata apapun, dia membisu. Suasana menjadi sunyi, entah apa yang
menghinggapi hati Iyas, kebawelannya tiba-tiba hilang. Lidahnya kaku,
hatinya kosong, ia merasa sesuatu bergentayangan di pikirannya.
“Heh! Kenapa sih lo? Kok diam gitu?” Reno menyadarkan Iyas dari lamunan.
“Oh.. maaf, gue agak speechless. Gue kira lo bohong soal pacar lo itu.”
Iyas mencoba mencari kata. Dia gak mau kelihatan bodoh di hadapan Reno
dan pacarnya. “Eh.. duduk yuk?” Reno dan pacarnya duduk berdampingan,
sementara Iyas duduk di depan mereka dengan bangku kosong di sampingnya.
Huh!! Ngenes!!
“Oya, kenalin aku Nadira, sekolah gue di SMA 44. Aku leader cheer
disana.” Dari omongannya kelihatan banget kalo Nadira ini ikon penting
di sekolahnya.
“Oh.. gue Iyas, gue satu sekolahan sama Reno.” Iyas bicara ala kadarnya.
“Lo ikut eskul apa?” tanya Nadira.
“Multimedia, semacam oprasional komputer. Gue sama Reno satu eskul.”
Iyas jujur agak minder, Nadira itu kelihatan sempurna, cantik, anggun.
Sedangkan dirinya, jauh banget kalo dibandingin Nadira. “Apa? Kamu ikut
eskul multimadia? Apa nggak ada yang lebih bagus? Kaya cheer, ballet,
dance. Masa multimedia? Yang bener aja.” Nadira kelihatan mulai
ngeremehin Iyas. Iyas mencoba tenang, dia nggak mau bikin kacau suasana.
“Multimedia juga bagus kok, kebetulan gue nggak suka dance, dance itu
ngeluarin tenaga dan keringat, jadi gue pilih eskul multimedia yang
simpel dan nggak ngeluarin keringat, hehe..”
“Eh.. pesan makanan yuk!” Reno mencoba menetralkan suasana. Nadira mengangguk antusias.
Iyas hanya termenung, apa yang sebenarnya terus mengganggu pikiran Iyas?
Iyas hanya terdiam seribu bahasa, sesekali dia tersenyum melihat kedua
sejoli itu. Tapi, jauh dilubuk hatinya dia merasakan kesunyian yang
membuatnya semakin tertekan.
Semakin lama Iyas nggak sanggup menahan kecanggungan ini lebih lama.
Iyas ingin memberi ruang buat mereka berdua. “Ren, gue cabut ya?
Tiba-tiba gue dapet telepon dari nyokap, ada yang penting deh kayanya.”
Iyas pamit. Sebenarnya nyokapnya nggak telepon.
“Yah, lagian lo belum pesan makanan udah mau cabut aja.” Reno mencegah
Iyas yang udah hampir beranjak dari tempat duduk. “Gue anter ya?” tawar
Reno.
“Apaan sih? Cewek lo siapa? Kok mau main anter aja? Harusnya lo tanya
dulu dong ke gue.” Nadira kurang suka dengan penawaran Reno pada Iyas.
“Loh, lo kok gitu? Dia kan sahabat gue, gue kan cuma mau nganter Iyas, emang salah ya?”
“Tapi, kan gue cewek lo. Lo harusnya hargain gue dong!” Nadira makin nggak terima.
Iyas jadi bingung sama situasi yang nggak menentu ini, “Ren, lo nggak
perlu kok nganterin gue. Gue udah dijemput kok di luar. Have fun ya buat
kalian berdua.” Iyas buru-buru keluar. Dan sebenarnya Iyas nggak
dijemput oleh siapa pun.
Iyas berdiri menunggui taksi, hawa dingin merasuk sampai ke
tulang-tulang, sudah hampir satu jam Iyas menunggu dan belum ada satu
taksi pun yang muncul. Langit murung bersamaan dengan Iyas.
—
Iyas mematung di samping gerbang sekolah, wajahnya begitu kusut
seperti diaduk-aduk seterika. Seperti biasa dia menunggu Reno disini.
Tapi, hingga sekolahan sepi, Reno belum juga muncul. Iyas mulai jenuh
mematung sendirian di depan gerbang. Hampir saja Iyas beranjak, Reno
muncul sambil terengah-engah. “Sorry ya, Yas, Lama ya?”
Sejenak Iyas terdiam. “Ya udah pulang yuk? Udah sore nih.” Kata Iyas kemudian.
“Lo nggak apa-apa kan?”
“Nggak apa-apa gimana? Ya gue baik-baik ajalah. Ya udah pulang yuk.”
Reno belum juga beranjak. “Lo serius nggak apa-apa?”
“Ya iyalah gue nggak apa-apa. Lo kenapa sih?”
“Justru lo yang kenapa? Aneh aja, lo nggak ngomel-ngomel karena gue telat.”
Keesokan harinya Reno duduk sendirian di bangku taman sekolah sembari
menimang-nimang kotak yang dia genggam, tiba-tiba Iyas muncul. “Yas,
lihat deh gue punya sesuatu.” Reno menunjukan isi kotak yang dia pegang.
“Kalung?” Iyas shock, melihat isi kotak itu.
“Iya, lo suka nggak? Sini biar gue pasangin.” Reno memasangkan kalung
itu di leher Iyas, kalung itu bergelantung manis di lehernya.
“Gue suka banget.” Puji Iyas, matanya berbinar penuh kebahagiaan.
Badannya menjadi seringan kapas, dia ingin melayang saking bahagianya.
Reno tersenyum. “Bagus deh kalo lo suka, menurut lo Nadira…” Reno
menerawang jauh. Sementara itu Iyas seperti ditabok saat bermimpi di
siang bolong, tiba-tiba saja dia merasa langit runtuh menimpa tubuhnya.
“Gue yakin dia pasti suka!” timbal Iyas sembari menyerahkan kembali
kalung itu ke Reno dan beringsut pergi. Reno hanya tertegun melihat
sikap Iyas.
Hari-hari berlalu semu, setelah hari itu mereka nggak pernah pulang
bersama lagi. Reno sibuk dengan kegiatannya, Iyas sibuk dengan apa yang
dia jalani sekarang, Iyas pindah sekolah ke Bandung. Semakin hari Reno
semakin kehilangan sosok Iyas. Iyas yang bawel, lucu, lemot tapi
ngangenin. Reno semakin merasa kehilangan separuh hidupnya.
7 tahun kemudian, Iyas kembali menjalani rutinitasnya di Jakarta. Dia
sudah menjadi seorang sutradara. Bulan ini dia menjalani proyek bersama
agensi terkenal.
“Ini editor film yang akan berkerjasama dengan anda.” Kata Produser film di agensi tersebut.
“Saya harap dia bisa profesional menjalankan tugasnya.” Kata Iyas tanpa
menoleh. Begitu dia menoleh, dia terdiam seribu bahasa. Reno! Sahabatnya
masa SMA.
Suasana menjadi kaku, nggak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka.
“Hei, apa kabar? Kelihatannya kamu udah nggak bawel lagi ya, hehe..” Reno berusaha menghangatkan suasana.
Tubuh Iyas membeku, tangannya sedingin es. “Ngghh.. aku mencoba menjadi dewasa.” Jawab Iyas ala kadarnya.
Suasana kembali diam, sampai saat Reno beranjak meninggalkannya. Iyas
menyalakan dirinya, betapa bodohnya dia, apa yang dia lakukan selama
ini? Menunggu jodoh menghampiri?
Iyas berjalan menuju loker dengan lesu, dia terus saja menggerutu.
“Kenapa harus dia lagi? Kenapa harus bertemu dia lagi? Disaat aku sudah
mulai melupakan mengapa dia muncul? Kenapa dia hadir? Kenapa dia?”
ratapnya dalam hati.
Ketika membuka lokernya, Iyas menemukan beberapa barang, beberapa
fotonya saat SMA, Iyas tertegun melihat foto-foto tersebut, berbagai
pose Iyas dengan pandangan mata tanpa menghadap kamera membuat Iyas
sadar bahwa foto-foto itu diambil secara diam-diam. Di belakang salah
satu foto tertulis, “Terkadang aku tidak puas jika hanya menatap
wajahmu.” Beberapa kupon peminjaman CD film, di belakangnya tertulis,
“Aku paling merindukan saat ini. Saat kita menyewa CD film.” Dan sebuah
kotak yang berisi kalung, dan selembar kertas di dalam kotak itu.
Tuhan,
bila ini kisah cinta mengapa aku tidak dapat mengejarnya
Tuhan,
bila aku jodohnya mengapa aku tak bisa menangkapnya
Tuhan,
adakah sajak yang bisa ku ungkapkan untuknya
“Kalung itu untukmu Iyas, bukan Nadira.” Suara itu mengagetkan Iyas.
“Bertahun-tahun sudah aku menunggu, akhirnya tiba, sebanyak sajak yang
aku punya mungkin tidak bisa mengungkapkan seluruh perasaanku. Tapi,
diriku selalu kau penuhi dengan jiwamu yang mungkin rapuh.” Kata Reno
muncul dari balik pintu.
Iyas menoleh, matanya berkaca-kaca. Air mata tak kuasa dibendungnya,
baginya kebahagiaan itu sekarang adalah miliknya, kini dia percaya
pepatah itu. Jodoh datang tanpa dia harapkan, Tuhan telah menjawab
doanya. Ternyata cintanya, Hatinya, Semua ada di Reno.
Cerpen Karangan: Elfrida Ayu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar